Pages

Thursday, October 14, 2010

Organizational Value


Keberhasilan seseorang atau suatu perusahaan terkadang diawali dengan suatu nilai yang sudah ditanamkan sejak masih kecil. Kejujuran yang ditanamkan orang tua pada anak kelak dibawa sang anak ketika bekerja nantinya. Kejujuran ini yang mungkin akan menyelamatkan dirinya ketika budaya korupsi sudah menjadi kebiasaan di sekitarnya dan membawanya menjadi seorang pemimpin perusahaan. Sebagai pemimpin perusahaan, ia akan menanamkan nilai kejujuran kepada seluruh karyawannya sehingga para karyawan akan bekerja dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Hal ini yang kelak menjadi kan perusahaan ini bersih dan tidak dikejar-kejar aparat hukum karena masalah penipuan. Inilah bagaimana terkadang nilai itu mengalir pada suatu individu atau pun pada perusahaan.

Pada teorinya, nilai-nilai merupakan suatu tuntunan atau pedoman yang mendasari bagaimana seseorang atau suatu organisasi berpikir, mengambil keputusan, bersikap dan bertindak. Sedangkan nilai–nilai organisasi adalah apa yang secara aktual memang menjadi praktek dari suatu organisasi. Apa yang disajikan, diyakini, dipercaya, dilakukan dan dipraktekan oleh para karyawan di dalam organisasi ini merupakaan nilai-nilai yang nyata atau riil. Sebagai contohnya kedisiplinan para pegawai dalam lingkungan kerja akan memberikan dampak positif pada kinerja perusahaan secara keseluruhan, apalagi didukung dengan jajaran pimpinan yang sangat mengutamakan kedisiplinan. Dengan kedisiplinan yang tinggi maka masalah keterlambatan untuk datang pada sebuah meeting, kelalaian dalam melaporkan pajak atau kebiasaan untuk tidak mengantri akan bisa diminimalisasi. Nilai-nilai akan membudaya pada diri pimpinan, karyawan dan perusahaan secara keseluruhan.

Jika suatu organisasi berniat untuk melakukan perubahan menuju efisiensi dan efektifitas serta membangun kemampuan fleksibilitas yang tinggi maka mau tidak mau organisasi tersebut secara mendasar perlu menyesuaikan nilai-nilai organisasi lamanya dengan nilai-nilai baru yang cocok dengan kebutuhannya dalam merubah menjadi fleksibel, inovatif dan efisien. Perubahan nilai-nilai organisasi bisa dilakukan melalui dua jalur dan kedua-duanya harus ditempuh secara bersamaan karena jika tidak maka perubahan nilai-nilai akan mengalami kepincangan dalam prakteknya. Jalur pertama adalah melalui keteladanan nilai-nilai oleh jajaran pemimpinnya. Jalur kedua adalah melalui penciptaan sistem organisasi dan teknologi yang akan mengarahkan orang mau tidak mau mengikuti penyesuaian perubahan ke nilai-nilai yang baru.

Para pemimpin sudah seharusnya menjadi teladan bagi para karyawannya. Para pemimpin yang mampu menjadi teladan yang baik bagi para karyawan pasti akan dapat meraih respek dan simpati yang baik dari para karyawan. Hal ini akan membangkitkan para karyawan untuk menjadi seperti bahkan melebihi para pimpinannya. Selain itu nilai-nilai yang baik yang ditunjukkan oleh para pimpinan akan membawa arus positif ke dalam setiap keputusan yang dipilih, kebijaksanaan yang dibuat dan peraturan yang diterapkan. Keseimbangan antara para pemimpin dan karyawan akan tercipta dan sinergi antar jajaran akan terlihat dengan jelas.

Dalam upaya untuk menanamkan nilai-nilai ini perusahaan harus membuat sistem penilaian kinerja yang bisa mengukur sejauh mana para pimpinan sudah menerapkan nilai-nilai tersebut dalam sikap, tindakan dan perilaku mereka terhadap karyawannya. Di lain sisi jika penilaian kinerja karyawan sangat menekankan pada prestasi individu tanpa ada bintang yang diberikan untuk prestasi karena adanya kerjasama atau prestasi kolektif maka yang akan timbul adalah budaya kerjaan-kerajaan kecil. Untuk mengkaji kedua isu di atas maka sistem yang mampu mengkolaborasikan unsur dari atas sampai ke bawah dan dari bawah ke atas akan sangat baik untuk diterapkan. Bagaimana dapat menilai seorang pemimpin sekaligus melihat relasi dirinya terhadap kelompok kerjanya, begitu pula dengan seorang karyawan dinilai perkembangan dirinya sekaligus melihat bagaimana posisinya di dalam kelompok kerjanya. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam menerapkan suatu sistem yang menilai kinerja individu baik pemimpin atau pun karyawan dengan kelompok kerja maupun perusahaan secara keseluruhan. Sebagai contoh pemimpin yang bisa berpikir "out of the box" akan dilihat kinerjanya dan dampaknya pada karyawan di bawahnya. Indikasi yang bisa dilihat adalah apabila para karyawannya dapat menghasilkan ide yang inovatif dan sangat berguna bagi perusahaan. Sedangkan karyawan yang memiliki jiwa seni dapat dilihat apabila nilai seni yang dimilikinya dapat membuka mata teman-teman dan pimpinannya untuk melihat suatu produk dari sisi yang berbeda. Penilaian ini tidak lah mudah, karena setiap orang akan memiliki cara dan respon yang berbeda sehingga perlu ditimbang matang-matang dalam menciptakan sistem pengukuran bagi suatu perusahaan.

No comments:

Post a Comment